• Jelajahi

    Copyright © JURNAL CARINGIN
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Sejarah awal berdirinya Nahdlatu Ulama NU Terlengkap

    Muhamad Taswara A
    Minggu, 23 Januari 2022, Januari 23, 2022 WIB Last Updated 2022-01-23T06:40:00Z
    Baca Juga

     

    KH. M Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)














    Nahdlatul  Ulama, atau yang dikenal dengan sebutan NU merupakan  Organisasi islam terbesar di Indonesia, berikut adalah perjalanan Organisai islam terbesar di Indonesia.


    Jauh sebelum terbentuknya Nahdlatul ulama pada tahun 1916, kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan seperti  Nahdlatul Wathon (Kebangkitan Tanah Air), Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pikiran), Nahdlatul Tujjar (Pergerakan  Kaum Sudagar) di Tahun 1918.


    Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama tak lepas dari pigur Kyai yang paling disegani yakni KH. Abdul Wahab Hasballah dan KH. Hasyim Asyi’ari.

    KH. A Wahab Chasballah & KH. M Hasyim Asy'ari 


     







    Dikutip dari website resmi  Nahdlatul Ulama, pendidirian nahdlatul Ulama digagas oleh para kyai ternama dari Jawa Timur, jawa tengah, Madura, Jawa Barat,  Yang menggelar pertemuan di kediaman kyai Wahab Hasballah, selain itu pertemuan para kyai  tersebut juga nerupakan prakarsa dari KH.Hasyim Asy’ari , yang dibahas pada waktu adalah upaya agar islam tradisional di Indonesia dapat dipertahankan.


    Pada awal tahun 1926 terjadi rapat antar Organisai islam yang akan mengirim dua utusan ke Mekah yang akan menghadap Raja Ibnu Sahud,  KH. Wahab mengusulkan delegasi  tersebut membawa persoalan mengenai praktik keagamaan islam tradisional di Indonesia, namun usul tersebut ditolak dengan tegas oleh kelompok islam repornis kala itu, penolakan itulah yang kemudian membuat golongan tradisisonal memutuskan akan mengambil jalan sendiri untuk menghadap Raja Ibnu Sahud untuk memperjuangkan kepentingan mereka.


     Pada tanggal 31 januari tahun 1926 para kyai berkumpul dikediaman Kyai Wahab dan memutuskan membentuk organisasi kemasyarakatan islam yang dinamakan Nahdlatul Ulama( Kebangkitan Para Ulama) dan menjadikan tanggal 31 Januari 1926 sebagai hari Lahirnya Nahdlatul Ulama yang dipimpin oleh KH.Hasyim Asy’ari sebagai ketua Rais Aam Suriyah pertama.

    Nahdlatul Ulama, menganut paham Ahlusunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara Ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum Ekstrim naqli (Skripturalis). Karena itu, sumber hukum islam bagi  Nahdlatul Ulama tidak hanya Al-Quran dan sunnah tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditampab dengan realitas empirit. Kemudian dalam fikih cenderung mengikuti imam syafi’i dan mengakui tiga  madzhab yang lain yakni imam hanaf,i imam maliki dan imam hambali, sementara dalam bidang tasawuf mengembangkan meode Al Ghazali  dan Syeikh Junaid Al Baghdadi yang mengintegrasikan antar Tasawuf dan syariat.


    Nahdlatul Ulama selain bergaerak di bidang keagamaan dan kemasyarakatan juga bergerak dibidang pendidikan sosial budaya, ekonomi dan mengembangkan usaha  lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas serta dibentuk dengan tujuan untuk memahami dan mengajarkan ajaran islam baik dalam  konteks komunikasi pertikal dengan Allah SWT, maupun komunikasi horizontal dengan sesama manusia.


    Pendukung atau simpatisan Nahdlatul Ulama dapat kita lihat berdasarkan hasil Riset yang dikeluarkan oleh lingkaran survey Indonesia atau (LSI)  pada 18-25 Februari tahun 2019. Nahdlatul Ulama didaulat sebagai Ormas terbesar di Indonesia, pasalnya hasil survei tersebut menetapkan Ormas Nahdlatul Ulama sebagai posisi teratas dengan jumlah prsentase 49,5 %, survei  yang melibatkan sebanyak  1200 respondent ini dilakukan melalui  diwawancara secara langsung dengan komposisi pemilih muslim sebesar 87,8 %, jika saat ini total seluruh penduduk Indonesia bernilai kurang lebih 250 juta penduduk dengan jumlah penduduk muslim berkisar 87%, maka Nahdlatul Ulama dengan persentase 49,5% yang dimiliki memiliki basis masa yang berjumlah kurang lebih 108 jt orang. 


    Ormas muhamadiyah yang lebih dulu lahir dengan nahdlatul ulama harus puas berada pada peringkat ke dua dan peringkat setelahnya diduduki oleh gabungan ormas islam lain apabila dilihat berdasarkan lokasi dan karakteristiknya mayoritas nahdlatul ulama terdapat di pulau Jawa,Kalimantan,Sulawesi,dan Sumatera.


     Pada perkembangan terakhir terlihat bahwa pengikut nahdlatul ulama mempunyai profesi beragam meskipun sebagian besar diantara mereka adalah masyarakat pada umumnya baik diperkotaan maupun dipedesaan,mereka memiliki koreksipitas yang tinggi karena secara sosial ekonomi memiliki problem ynag sama. Selain itu juga sama-sama sagat menjiwai ajaran ahlusunnah waljamaah pada umumnya mereka memiliki ikatan yang  kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya nahdlatul ulama.


    Hal ini dikarenakan amaliyah nahdlatul ulama yang dapat diterima masyarakat biasa yang notabe nya bukan lulusan pesantren yang sekaligus menjadi cirri khas nahdatul ulama seperti tahlilan, mauled nabi,ziarah kubur ,istigotsah,sholawatan dan masi banyak lagi. 


    Dikutip dari berbagai sumber,  pendiri nahdlatul ulama mempercayakan pembuatan lambang nahdlatul ulama kepada Kh.Ridwan Abdullah, kala itu beliau berusia 63 tahun beliau adalah seorang kiyai yang alim, tetapi memiliki kelebihan lain yakni terampil melukis.


    KH. Hasyi Asyari memeberikan dua kriteria lambang Nahdlatul Ulama yaitu tidak meniru lambang lain dan harus memiliki haibah atau wibawa dan tidak membosankan sampai kapanpun, akhirnya pada satu malam dengan harappan munculnya insfirasi atau ilham,pada saat orang terlelap tidur Kh.Ridwan Abdullah mengmbil air wudhu kemudian  sholat istiqharah setelah itu beliau tidur sejenak.


    Dalam nyenyaknya beliau bermimpi melihat sebuah gambar dilangit yang biru nan jernih Nampak seperti bola dunia diklilingi bintang dan tali penyambung dan pengait, kemudian secara sah lambing nahdlatul ulama diresmikan pada 16 rojab tahun 1344 bertepatan tanggal 31 januari 1926 dengan jenis organisasi keagamaan dan sosial. 

    KH. Ridwan Abdallah (Pembuat Lambang Nahdlatul Ulama) 












     


    Sementara Lokasi kantor pusatnya saat ini berada di jl.Keramat Raya no 164 DKI Jakarta Indonesia.  Nahdlatul ulamamelahirkan para  perjuang  yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan meski para pahlawan dari nahdlatul ulama dan  pesantrn terbilang banyak  tetapi hanya beberapa namaa yang mendapat gelar pahlawan nasional, berikut nama-nama tokoh nahdlatul ulama yang mendapat gelar pahlawan tersebut: 


               ·          KH. Hasyim Asy’ari (suku jawa)

               ·          KH. Wahid Hasyim(suku jawa)

               ·          KH. Zainal Arifin Pohan(suku batak)

               ·          KH. Zainal Mustofa (suku sunda)

               ·          H. Andi Mappanyuki (suku bugis)

               ·          H. Andi Djemma (Suku Luwu)

               ·          KH. Abdul Wahab Chasbullah ( suku jawa)

               ·          KH. As’ad Syamsul (suku Madura)

               ·          KH. Idham Chalid (suku Banjar)

               ·          KH. Sam’un (Suku Banten)

               ·          KH. Masjkur (suku jawa)

     

    Selain tokoh pahlawan nasional nahdlatul ulama juga memiliki tokoh-tokoh penting yang ikut andil dalam membangun negri serta teah mengemban amanah yang besar bagi masyarakat luas. Pertimbangan penyebuan nama-nama ini  didasarkan pada awal pendiran nahdlatul ulama dan posisi strategis dalam struktur organisasi baik dalam jajaran suriyah maupun tanfidziyah . Selebihnya dalam kontribusi besar nahdlatul ulama melalui lembaga maupun badan otomom dibawah naungan  nahdlatul ulama .


    Lembaga adalah perangkat  departemntasi organisasi nahdlatul ulama yang berfungsi  sebagai pelaksana kebijakan nahdlatul ulama brkaian dengan kelompok masyarakt tertentu atau yang emerlukan penanganan khusus. Selain itu pula terdapat badan otonom yang berfungsi melaksanakan kebijakan nahdlatul ulama yang berkaitan dengan kelompok masyaraat tertentu dan beranggotakan perorangan, badan otonom dikelompokan dalam kategori otonom berbasis usia dan klompok masyarkat tertentu dan badan otonom berbasis profesi dan kekhususan lainya.


    Gagasan baru tentang islam nusantara seacar resmi dideglarasikan nahdlatul ulama pada tahun 2015, pro-kontra pada gagasan baru itu dating silih berganti bahkan tak jarang yang menuduh dan membeikan stigma negatif tanpa berdialog terlebih dahulu dengan komoditas yang memunculan gagasan tersebut dalam hal ini adalah orgasisasi islam nahdlatul ulama. Guru besar filologi UIN Jakarta Oman faturahman mengatakan bahwa islam nusantara itu adalah islam nusantara yang emfirik dan distingtif sebagai hasil interaksi kontekstualisasi , intigenisasi, penerjemaahan, pernakuralisasi islam universal dengan realitas sosial, Budaya dan  sastra di Indonesia.


    Kini Islam Nusantara telah melekat pada diri Nahdlatul Ulama, bahkan tidak hanya itu pada Juni tahun 2015 presiden Jokowidodo telah secara terbuka memberikan dukungan pada Islam Nusantara yang merupakan bentuk islam yang modern dan dianggap cocok dengan nilai-nilai Budaya Indonesia.

    Untuk pertama kalinya Nahdlatul Ulama terjun pada Politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952, dan kemudian mengikuti pemilu pada tahun 1955.

    Nahdlatul Ulama cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi konstituante, pada masa demokrasi terpimpin Nahdlatul Ulama dikenal sebagai partai yang mendukung Ir.Soekarno dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis Agama dan Komunis).


     Nahdlatul Ulama kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tanggal 5 Januari tahun 1973 atas desakan penguasa Orde Baru mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP, pada Muktamar Nahdlatul Ulama di Situbondo, Nahdlatul Ulama menyatakan diri untuk kembali ke Khitah 1926 yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi. 

    Namun setelah Reformasi 1998 muncul partai-partai baru yang mengatasnamakan Nahdlatul Ulama, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang di Deklarasikan oleh KH.Abdurahman Wahid atau yang lebih dikenal GusDur. Pada pemilu 1999, PKB memperoleh 51 kursi DPR, dan bahkan mengatakan KH. Abdurahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia. Dalam perjalanan riwayatnya Nahdlatul Ulama berkembang pesat dan amat terjaga secara tradisisonal, kini Nahdlatul Ulama menjadi Organisasi Islam Terbesar di Indonesia.

     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Wisata Jabar

    +